Tora-Tora dan Agenda Senang-Senang ala Wok The Rock
Tiga hari yang lalu saya membaca sebuah poster acara yang menarik di Whatever Shop, salah satu distro di kota Jogja. Tajuk acaranya Tora-Tora Agresi #1 Melumat Identitas. Ini menarik perhatian saya karena tajuk acara yang unik dan beberapa band pengisinya masih asing di telinga saya.
Dalam rangka itu saya menemui Wok The Rock yang bertugas mengurusi acara tersebut. pertemuan ini saya lakukan di halaman belakang Mes 56 tempat biasa mangkal Wok The Rock. Berikut wawancara lengkapnya.
Apa sih gagasan besar diadakannya acara Tora-Tora, sepertinya ada agenda tertentu dengan adanya kata-kata Agresi #1 Melumat Identitas di posternya.
Sebenarnya tuh ga ada maksudnya, itu hanya seneng-seneng aja. Kalau temanku menyebut ini hanya permainan kata-kata, istilahnya "akrobat kata". Seperti disini yang sering menggunakan itu Eko Nugroho. Eko Nugroho dulu kalau buat karya kan sering dikasih teks yang ga jelas-ga jelas. Nah pokoknya acara ini memang tidak ada konsepnya dan itu hanya bantuin turnya anak-anak Bandung. Memang mereka itu ada agenda tersebut. Itu kan gerombolan anak anak If, komunitasnya If Venue. Klo di Bandung posisinya mereka itu agak menengah ke bawah. Maksudnya bukan secara ekonomi tetapi secara pemetaan musik disana. Nah aku memang deket dengan komunitas tersebut karena memang mereka rata-rata kuliahnya di seni rupa IKIP Bandung. Mereka musiknya lebih ngawur, gerombolan yang menengah keatas tadi buat Ripple dan mereka buat Wasted Rockers. Isinya itu membahas musik yang tidak dibahas di Ripple dan media mainstream lainnya namun mereka juga tetap membahas band yang diangkat oleh media mainsteram, seperti membahas Avenged Sevenfold hingga mereka membahas band lokal yang tidak diketahui khalayak seperti underbow band-band grunge macam kolor, manual. Manual terangkat gara-gara gerombolan Wasted Rockers juga. Minoritas bangetlah.
Mereka juga musiknya eksperimental awal-awalnya, A stone A, Pemuda Elektrik, pentolannya emang itu. Nah ketika aku main kesana, terus ngobrol-ngobrol ternyata kalau mereka terinfluence oleh komik Daging Tumbuh dan untuk musiknya SeekSixSick. Kiblatnya ke Jogja mereka itu. Mereka referensinya hanya dua itu. Dari berkeseniannya di seni rupa, drawingnya dan karya seni rupa lainnya, seperti gaya-gayanya Eko Nugroho dan Soni Irawan. Lalu mengolah kata-katanya juga seperti Eko Nugroho.
Mereka musiknya eksperimental bahkan sekarang musiknya lebih eksperimental dari SeekSixSick. Jadi mereka betul-betul menyerap bukan hanya musiknya saja tetapi juga semangatnya. Luwih ambyar seko SeekSixSick, buat komik juga luwih ambyar seko Daging Tumbuh ibaratnya mereka membuat komunitas yang seperti itu. Waktu aku main kesana ternyata lucu-lucu mereka itu, jadi If Venue itu semacam kayak distro terus ada perpustakaannya sama studio bandnya. Dan anak-anak disitu ga ada yang ngerokok, ga ada yang minum alkohol, alim-alim semua. Waktunya shalat mereka shalat. Mereka bukan straight edge juga. Jadi kalau dengerin musiknya mereka kan bising, semrawut gitu. Pegawai-pegawai distronya juga jilbaban. Terus aku ngobrol-ngobrol sama mereka ternyata mereka didanai oleh Muhammadiyah buat seperti itu. Karena pentolannya si Andri Muhammad itu salah satu aktivis Pemuda Muhammadiyah. Bahkan mereka pernah ngeluarin majalah juga dan itu didanai sama Muhammadiyah. Tapi klo kamu maen kesana gitu ga ada content-content islam disana. Nah trus berkembang bandnya semakin banyak, gerombolan indie-indie rockers, Neowax dan segala macam itu kan mulai tahun 2000an. Dan aku hubunganya dengan mereka ya deket aja, sama Hahan juga deket.
Nah ini long weekend kemaren itu mereka berencana untuk tur Semarang, Jogja dan Solo. Tapi karena waktunya mepet dan mereka harus kembali bekerja pada hari seninnya akhirnya Solo dibatalkan. Jadi ya hanya seperti itu sih cerita adanya acara ini.
Darimana nama Agen Dosa itu sendiri muncul?
Biar keren aja, ini yang ngurusin dikasih label. Brandnya apa ya? Ya sudah akhirnya Agen Dosa aja. Melumat identitas itu hanya mengikuti gayanya mereka. Kalau dengerin Sungsang Lebam Telak lirik-liriknya kan gaya bahasanya seperti itu. Itu hanya main-mainan saja kalau anak muda kan selalu ada isu tentang identitas, identitas itu kan ga hanya di musik dibahas tetapi juga di seni pun dibahas. Di ranah politik pun dibahas. Ini bukan termasuk gerombolan-gerombolan seperti, ah opo sih identitas nah seperti itu.
Waktu liat pamfletnya itu ada kata-kata identitas, kayaknya itu seksi banget.
Memang. Aku hanya memancing saja. Mungkin dua tahun yang lalu keren, membahas identitas itu dengan menggebu-gebu tidak hanya di Jogja, Jakarta dan Bandung semua membahas identitas. Sampai performance art pun membahas identitas. Sekarang aku ya liat karakternya anak-anak itu, beberapa karakter band-band eksperimental Jogja yang pernah tumbuh segar dulu kan, hal koyo ngono kuwi ah opo sih, nah kayak gitu lho. Yang jadi adi luhung ah opo sih. Pengennya sih menjilat identitas atau apalah yang mempermainkan itu. Tadinya mau Mencari Identitas buat memparodikan acaranya Marzuki yang dulu. Mencari harmoni diplesetkan jadi Mencari Identitas tapi kok jelek. Ntar malah terjebak pada isu identitas.
Band dari Jogja Cranial Incisored sama Damien and Rosemary dan Belajar Membunuh itu alasan pemilihan band tersebut gimana?
Pemilihanku begini, Belajar Membunuh itu pertama teman-temanya mereka. Mereka pengen liat Belajar Membunuh. Anak-anak Bandung pengen Black Ribbon, Belajar Membunuh sama SeekSixSick maen. Cuma Black Ribbon kan ga bisa, ya sudah lah Belajar Membunuh. Itu yang pertama karena mereka pengen nonton Belajar Membunuh yang salah satu idola mereka. Yang kedua, Belajar Membunuh itu lama tidak main. Sibuk melukis semua anak-anaknya. Udah mapan semua dan ga band-bandan lagi padahal mereka membentuk pasar lukisan mereka dari background band-bandan. Kalau kita membaca katalognya Hahan dll itu mereka anak muda yang ngeband terus melukis dan sekarang tak balikin lagi ayo kowe cah band-bandan main lagi.
Kalau Damien and Rosemary ini karena aku pengen kesan yang selatan banget karena anak-anak Bandung tersebut deketnya sama anak-anak selatan. Tapi aku pengen ada band yang diluar dari itu, pertama banyak masukan band seperti Sangkakala, Rolling Tone, wah ini malah jadi seperti pembukaan pameran. Makanya aku milih band dari utara lah yang maen. Apa ya? Aku kepikirannya Boddah, tapi terlalu bising menurutku kalau Boddah. Mereka tujuh band dari bandung dan yang bising udah ada empat. Aku mendengarkan Damien and Rosemary, mereka ngepop dan aransemennya ga umum. Pilihan ketiga itu sebenarnya bukan Cranial Incisored tapi SeekSixSick itu buat gongnya karena mereka mereka udah berterimaksih banget kalau SeekSixSick bisa main. Sebagai penanda juga musik kayak gini bisa saya angkat lagi di Jogja. Tapi SeekSixSick sibuk jadi ga bisa. Terus apalagi ya, karena mereka ada metalnya juga Serigala Jahanam maka ya sudah Cranial Incisored menjadi pilhan. Kenapa tidak Cangkang Serigala, ya karena saya bosen, wis kowe MC wae lah.
Pemilihan rundown nih, unik juga kayaknya.
Aku asline garapi isu-isune lockstock hehehehe.
Ini menjadi menarik karena pemilihan rundown tidak terpaku dari segi popularitas band yang main.
Itu memang menjadi keinginanku dari dulu, kalau kamu nonton acara punk-punkan ga ada istilah kayak gitu. Istilahnya biasanya khan diundi tuh band yang maen. Jaman aku dulu sampe sekarang, tapi sekarang rada beda, itu diundi. Nah ketika sekarang aku masuk pada scene-scene yang lebih luas dan kebetulan kok yang gaungnya kuat di Jogja tuh scene yang diluar punk, ternyata karakternya setelah tak pelajari mereka ternyata suka membuat acara di café atau tempat-tempat sejenis. Nah karakter kedua ya itu tadi, band yang udah punya massa banyak dijadikan gong untuk main terakhir atau pas ditengah acara yang lagi hangat-hangatnya. Penonton musik di Jogja tuh biasanya mabuk dulu diluar baru masuk. Sehingga band yang main awal itu ga ada yang nonton. Beda dengan punk-punkan, tetap ada yang nonton band pertama. Mereka punya teman-teman ya mereka itu yang nonton. Dan karena memang oplosan, mau tidak mau harus dateng dari awal. Memang acara punk-punkan ini lebih bersifat rendezvous, bukan nonton band. Jadi harus datang dari awal untuk ketemu teman-teman. Bukan dateng pertama dan dateng terakhir hanya karena ingin nonton band tertentu.
Nah sebenarnya bukan hal yang baru rundown seperti ini. Sisan garapi lockstock yang katanya band-bandJjogja telah dianaktirikan hehehe, nyoh band Jogja tak kasih di depan sendiri yang terakhir Neowax yang jelas dari Bandung. Bintang tamu katakan saja, kalau memang band luar Jogja sering dijadikan bintang tamu. Ya ini dia bintang tamu menurut pikiran kalian. Tapi kalau Neowax sama Cranial Incisored di Jogja massanya lebih banyak mana? pasti lebih banyak Cranial Incisored. Aku nawarin si Halim, piye lim kowe wani ra main pertama? Pertanyaanku wani ra?bukan mau ga? Halim jawab wah nek maen pertama ki soundnya belum enak wok. Mungkin cah-cah agak kesusahan. Aku ga ngerti juga kalau anak-anak band mungkin mikirnya masih adem soundnya dan harus dipanaskan kayak motor gitu. Nah makanya itu aku tanya sama dia berani apa ngga? Yang jelas ini konsepku semua band tuh sama. Anggap aja sama jeleknya sama bagusnya. Musikmu klo ditonton sama anak yang ga suka Cranial Incisored juga kan jelek, begitu pun sebaliknya. Yaudah akhirnya Halim mau. Awalnya aku nawarin Damien and Rosemary juga, tapi kalau mereka sih yah-yoh yah-yoh wae hehehe, makanya aku nuggu Cranial Incisored dulu aja, mereka mau main pertama atau ngga. Disamping itu juga aku pengen seperti yang terjadi di scene punk yang tak alami. Jadi orang tuh datang dari awal. Setelah itu kowe minggat yo rapopo. Kowe teko seko awal nonton nek ra nonton yo rapopo kok. Sing penting kumpul seko sore. Ini ada momen kalian bisa kumpul disini. Aku yakin, kamu juga seperti itu tho, ada band-bandan pengen ketemu sama temen dan minum-minum bareng.
Beberapa band yang main di Tora-Tora kan dirilis sama Yesnowave juga
Beberapa. Ya itu, kenapa aku mau ngurusin.
Kenapa kok namanya Tora-tora?
Itu Cuma Hore-hore gitu lah karena pas lagi ngobrolin Agen Dosa itu kita lagi ngobrolin hal-hal yang purba. Ngobrolin budaya-budaya yang purba. Mabuk-mabukan terus haha-hihi, ngeband-ngeband tanpa di stem itu kan termasuk hal yang purba-purba. Ya sudah akhirnya namanya yang purba aja, Agen Dosa, trus yang semangatnya purba, apalah, pertamanya Kapak Tomahawk, tapi akhirnya ngambil dari film perang Jepang, Tora-tora. Karena ya musik-musik yang besok main itu kan model musik yang sekarang jarang.
Diluar dari tadi yang telah dibicarakan, pandangan pribadi Wok the Rock terhadap gigs yang selama ini ada di Jogja.
Wah lockstock kie hehe
Karena itu isu yang lagi dibahas sama temen-temen lain
Gigs yang ada di Jogja tuh sekarang banyak. Kita sebenarnya tinggal milih. Hardore-hardcorean pada buat, emo-emoan juga buat, punk-punk buat, musik yang campur-campur juga ada, band-band indie yang main di tempat mewah seperti Liquid juga bisa, jadi klo saya bandingin dengan jaman dulu ya lebih enak sekarang. Sebenarnya ga ada masalah sih dengan ini kalau bagi aku. Untuk format-format musik yang dikonsep gitu Jogja punya banyak kalau mau lihat, nonton, beda sama Jakarta. Kemarin saya ketemu sama band Derai Maksimal dari Jakarta pas main kesini. Saya tanyakan pada mereka biasanya mereka main dimana kalau di Jakarta. Dimana ya kita tuh ga punya scene untuk musik-musik kayak gini, ya jarang katanya. Padahal kalau disini musik-musik kayak gitu tuh sering lho maen. Sekarang kayak Joko Problemo, dia ga pandang genre, dan hampir tiap dua minggu sekali buat acara. Jadi kamu ngeband disini lebih sering main bila dibandingkan dengan ngeband di Jakarta. Jadi ya memang ga ada masalah klo aku.
Jadi acara Tora-tora ini sebenarnya bermaksud tidak merespon isu gigs yang sedang hangat-hangatnya dibahas.
Ga ada tujuan seperti itu. Kalau misalnya nanti struktur konsepnya jadi animo masyarakat ya itu ga ada tujuan untuk seperti itu. Ini bukan benar-benar format gigs yang aku harapkan. Ini cuma ada teman yang mau main dan aku bantuin buat acara saja.
Aku juga kan mengkuti isu-isunya Lockstock, itu pembahasannya gol yang ingin dicapai sepertinya ingin mengangkat band-band menjadi populer secara nasional. Seperti yang terjadi pada The Upstairs dan band-band Jakarta, Bandung dan lainnya. Kalau aku akhirnya take off dari sana, wah ini beda tujuan, aku ga memiliki harapan dan tujuan yang seperti ini. aku ya indie, pencapaiannya beda, klo pencapaiannya nasional ya sudah aku buat Yesnowave, itu bisa didengarkan siapa saja, klo urusan terkenal atau tidak terkenal itu kan media eksposures. Klo ingin ngetop, dibaca secara nasional, ya itu bandnya. Ya kalian yang gelisah-gelisah itu buat media yang mampu menyuluhkan semua. Masuk ke dalam sendi-sendi mainstream. Orang-orang Bandung dan Jakarta bisa seperti itu ya karena orang-orangnya merasuk pada sendi-sendi mainstream. Ada yang jadi wartawan Rolling stones, wartawan Trax, bekerja di Warner musik, ya iyalah keangkat mereka.
Berarti Jogja kan sedang gelisah nih
Menurut mereka
Oke, menurut mereka, sebenarnya apa sih yang harus dilakukan oleh Jogja?
Ya buatlah media yang bagus lalu membuat jaringan nasional kalau memang ingin menasional. Bangun networking dan membuat positioning yang kuat melalui media. Kalau ada band yang bagus dari Jogja ya dibahas terus melalui media sehingga membuat pembacanya penasaran dan ingin tahu. Itu kan sebenarnya motif yang dilakukan oleh anak-anak Bandung dan Jakarta.
wah..nek interview live ki aku mesti ambyar ngene yo tata bahasane. ckckck..dadi ra enak diwoco. jika di rapikan kok ntar malah merepotkan redaksi yo..hahaa..sori2 bro. lain kali via e-mail wae lah.
Potensi Musik Jogja Sebagai Wadah Persinggungan Seni dan Budayaby Timoteus Anggawan Kusno
Bagaimana dinamika perkembangan musik jogja di dalam menghadapi tantangannya tanpa berkutat dengan komparasi yang melelahkan
- 1. Eric Clapton - Cocaine
- 2. The Prodigy - Outerspace
- 3. Sebadoh - Freed Pig
- 4. The Breeders - Canonball
- 5. Mesin Tempur - Beca Tiguling
Posted in Event by Purnawan Setyo Adi
Musik pop era 70an kembali dihidupkan oleh White Shoes and The Couples Company diiringi dansa kala senja menggila.
Posted in Event by Timoteus Anggawan Kusno
Acara launching dua buah album dibatalkan karena hujan deras yang mengguyur.
Price : IDR 90.000,-
Sebuah permainan komposisi warna psychadelic, layaknya ekstase meremukkan mushroom di dalam rongga





wowok iseh edan seperti pertama dulu aku kenal wahahahahahaaa.......