Catatan Sebuah Proses
Belum pernah terpikirkan oleh saya untuk terlibat dalam sebuah pertunjukkan yang menggabungkan unsur musik dan seni gerak. "A Girl On The Run" merupakan sebuah konsep pertunjukkan seperti yang saya maksud di atas. Pertunjukkan ini mencoba mengawinkan antara konsep musik dari Frau dan seni gerak dari Bengkel Mime. Bisa jadi "A Girl On The Run" menjadi sebuah pertunjukkan alternatif di awal tahun 2009 ini diantara pertunjukkan musik lainya.
Mengikuti cara kerja tim ini mulai dari menggodok konsep hingga pada tahap eksekusi menjadi sebuah pengalaman baru untuk saya, karena jujur saya sangat jarang bertukar pikiran dengan orang-orang yang bekerja dibidang kesusastraan maupun teater. Jujur saya sendiripun pada awalnya belum bisa intens untuk ikut masuk dalam mencari turunan-turunan konsep, namun pada beberapa pertemuan yang saya ikuti saya merasa banyak imajinasi-imajinasi liar yang muncul disana. Semua tim mencoba menginterpretasikan lagu-lagu milik Frau dalam bentuk visual, suasana, mood ataupun warna. Saya pikir penggambaran-penggambaran semacam ini sangat membantu tim artistik pada khususnya dalam membuat suatu adegan ataupun semacam skenario pada nantinya. Mulai dari sini semakin lama semakin saya berpikir bahwa pertunjukkan ini tidak segampang yang saya bayangkan.
Benar saja, ketika kami sebagai tim mulai masuk kedalam tahap latihan, sangat tergambar bahwa pertunjukkan ini memang harus mempunyai struktur sistem jelas. Kalau bisa saya analogikan membuat pertunjukkan ini seperti membuat sebuah rumah dimana kita memang harus memberi sebuah pondasi yang mantap, mengukur semuanya secara akurat agar tidak roboh, dan memilih warna cat tembok agar bisa memberi mood pada rumah tersebut atau dengan kata lain setiap detail sangat diperhitungkan dengan sungguh-sungguh. Begitu juga dengan pertunjukkan ini, segala sesuatunya baik itu dari sound, adegan, kostum ataupun tata cahaya supaya semua itu bisa membuat sebuah sinergi yang serasi antara satu dengan yang lainya. Namun dengan segala kerumitan ini kemudian saya berpikir kembali dan berandai-andai ini akan menjadi sebuah pertunjukkan yang menarik dengan segala kerumitanya.
Kemudian kesolidan antar personal menjadi sebuah tantangan tersendiri dalam persiapan pertunjukkan ini. Membentuk sebuah tim pertunjukkan seperti ini dalam waktu sekitar 1.5 bulan sepertinya terlalu singkat buat saya. Pertemuan demi pertemuan secara intensif diadakan agar bisa menjaga kesolidan masing-masing orang. Proses camp yang dilakukan selama dua hari satu malam di Banjar Mili juga menjadi jawaban bagaimana bisa untuk menambah kesolidan dalam waktu yang terhitung cukup singkat.
Mungkin ada satu hal yang menurut saya paling penting dalm membangun pertunjukkan ini adalah adanya sebuah etos kerja yang tinggi. Terkadang beberapa orang kurang melihat sisi tersebut karena orientasinya hanya terhadap hasil yang sempurna . Saya pikir hal ini sudah sering terjadi di era sekarang dimana orang dihadapkan pada budaya instan. Merasa semuanya bisa dicapai secara cepat dan mudah tanpa harus susah. Apa yang mau saya katakan disini adalah bahwa selama tim ini berproses dalam menyiapkan pertunjukkan, saya melihat semua orang ditengah-tengah kesibukanya mau meluangkan waktu untuk mencapai satu tujuan yang sudah disepakati bersama sejak awal, Itu yang saya sebut sebagai sebuah etos kerja.
Sebagai penutup catatan ini saya merasa banyak hal berharga yang saya dapatkan ketika mengikuti proses persiapan pertunjukkan ini, baik itu dari skill dalam mengolah sound, pengetahuan-pengetahuan baru dalam bidang teater, sampai mengetahui berbagai macam cerita dan semua perasaan orang di dalamnya. Kami merasa lebih sebagai keluarga daripada sebagai sebuah tim secara formali. Inilah "A Girl On The Run" sebuah pertunjukkan yang dihasilkan karena adanya kebersamaan, emosi dan totalitas dari masing-masing orang.
- + Berawal Dari Kabar Seorang Kawan by Purnawan Setyo Adi
- + Mencuri Manisnya Madu Metropolitan by Kurnianto Tri Wibowo
- + Epilog Indah "A Girl On The Run" by Marselinus Krishna
- + Catatan Sebuah Proses by Marselinus Krishna
- + Ternyata Ini "Legenda" Yang Dimaksud by Kurnianto Tri Wibowo
- + Pertunjukkan Klimaks dari Risky Summerbee and The Honey Thief by Purnawan Setyo Adi
- + A Moment With Frau, Double It Up! by Mahar G.Rosalia
Potensi Musik Jogja Sebagai Wadah Persinggungan Seni dan Budayaby Timoteus Anggawan Kusno
Bagaimana dinamika perkembangan musik jogja di dalam menghadapi tantangannya tanpa berkutat dengan komparasi yang melelahkan
- 1. Eric Clapton - Cocaine
- 2. The Prodigy - Outerspace
- 3. Sebadoh - Freed Pig
- 4. The Breeders - Canonball
- 5. Mesin Tempur - Beca Tiguling
Posted in Event by Purnawan Setyo Adi
Musik pop era 70an kembali dihidupkan oleh White Shoes and The Couples Company diiringi dansa kala senja menggila.
Posted in Event by Timoteus Anggawan Kusno
Acara launching dua buah album dibatalkan karena hujan deras yang mengguyur.
Price : IDR 90.000,-
Sebuah permainan komposisi warna psychadelic, layaknya ekstase meremukkan mushroom di dalam rongga





pertunjukan yang sangat bagus..,tapi sayang banyak yang tidak bisa masuk karena kehabisan tiket ya..??walaupun sudah di bikin dua kali untuk pertunjukannya,salut buat musicbox...,selamat malam..!!