Epilog Indah "A Girl On The Run"
Jam digital saya menunjukkan pukul 18.45 kala itu. Di depan Lembaga Indonesia Prancis (LIP) sudah banyak orang yang berkerumun dan berbincang menghabiskan waktu sembari menunggu pertunjukkan yang bertajuk A Girl On The Run dimulai. Suasana dingin terasa kental karena memang sorenya turun hujan yang cukup deras, namun suasana dingin itu tidak terasa di dalam auditorium yang dijadikan tempat pementasaan ini berlangsung. Saya sendiri terserang rasa grogi yang amat mendalam diikuti dengan rasa sakit perut dan tangan yang gemetaran menjelang detik-detik pementasan.
Sekitar pukul 19.10 beberapa penonton mulai masuk, belum terlihat adanya wajah-wajah muda pada pementasan yang pertama ini karena kebanyakan yang datang adalah serombongan keluarga. Saya sendiri cukup kaget dan terkesan dengan apa yang saya lihat. Pertunjukkan ini saya bayangkan menjadi sebuah reuni keluarga besar, sangat intim satu dengan yang lainya. Tak lama kemudian semua pintu akses ke auditorium pementasan ditutup dan tidak memperbolehkan orang untuk masuk. Memang sepertinya pertunjukkan ini di desain agar penonton bisa mengikuti semua part dalam pertunjukkan tanpa ada satupun yang boleh dilewatkan.
Tak lama kemudian Frau dengan style yang cukup kasual memasuki area pertunjukkan. Dengan membuat sedikit prolog tanpa basa basi Frau langsung memainkan lagu pertamanya yang berjudul Marry Me. Lagu dengan balutan irama waltz bercampur melodi piano klasik ini sukses membuka pertunjukkan sekaligus menggiring para penonton untuk memasuki dimensi imajinasi lain yang mungkin tak terduga sedari awal. Belum sempat penonton berlama-lama bertepuk tangan lagu yang berjudul Mesin Penenun Hujan kemudian mulai dimainkan. Saya merasa atmosfir pada lagu ini sudah berbeda 180 derajat dengan lagu pembuka. Permainan tata cahaya dan seni gerak oleh Bengkel Mime perlahan-lahan mulai ditunjukkan. Dentingan intro piano ditambah suasana hujan yang ditimbulkan oleh perangkat elektronik sangat pas sekali untuk membuat orang merenung. Bagian ini seperti mengajak penonton untuk instropeksi diri terhadap apa yang sudah terjadi terhadap diri mereka masing-masing. Mendekati akhir lagu pertama selesai terdengar sayup-sayup suara seperti genderang perang. Sentuhan denting piano yang dimainkan pada babak inipun terdengar sedikit meledak-ledak. Seakan-akan menunjukkan tingkat emosional orang yang cukup tak tertahankan.
Cat and Rat pun kemudian dimainkan. Beberapa properti 2 dimensi satu persatu mulai menghiasi latar pertunjukkan. Beberapa gerak yang ada pada lagu ini membuat saya sedikit tertawa karena secara tersirat menggambarkan seekor kucing dan tikus yang mengikuti kodratnya untuk saling berkelahi meskipun mereka lebih terlihat seperti bermain. Saya sangat suka ending dari lagu ini dimana ada sebuah sesi "hening". Tidak ada suara hanya gerakan yang dibuat oleh Frau sendiri dan Bengkel Mime. Saya sendiri tidak begitu mengerti maksud dari gerakan ini, namun saya merasa ini sebuah bagian yang hebat. Seperti seolah terkadang seseorang juga butuh istirahat dari bisingnya dunia dan menikmati sebuah keheningan.
Setelah sedikit tegang dengan lagu ke tiga dan lagi-lagi penonton belum sempat untuk bertepuk tangan indra pendengaran saya kembali di serang dengan suara pianika dari kejauhan. Kemudian muncul sesosok gadis yang memainkan sebuah pianika yang nantinya akan berkolaborasi dengan Frau pada lagu Salahku Sahabatku. Atmosfer yang cukup tegang pada lagu sebelumnya sedikit mencair. Terwujudlah sebuah scene dimana Nadya Octaria Hatta dan Frau berkolaborasi dalam memainkan pianonya. Properti yang ada membuat mereka seolah-olah sebuah sahabat yang sedang berjalan-jalan sambil mengobrol santai di dalam mobilnya. Inilah bagian yang saya sukai pada segi koreografinya. Bengkel Mime yang bertugas mengisi saat itu saya pikir sukses membuat orang merasa melihat sebuah perjalanan antara dua sahabat yang berada dalam mobil.
Babak berikutnya Frau memainkan sebuah lagu yang berjudul I'm A Sir. Suasana serius yang ditunjukkan dari awal pertunjukkan secara perlahan mulai mencair. Permainan solid dari Frau direspon oleh Bengkel Mime dengan sebuah tarian. Penonton disuguhkan tarian seperti pada film-film slapstick a la Charlie Chaplin. Kekompakan satu dengan yang lainya dalam memperagakan tarian ini menjadi sebuah nilai plus dan beberapa penonton yang pada awal terlihat serius mulai menunjukkan senyumnya. Karakter yang dibentuk sejak awal berubah drastis ketika Frau memainkan lagu kelimanya yang berjudul Oskar. Sekedar info, Oskar adalah nama yang diberikan Frau kepada pianonya. Pada lagu yang diiringi dengan sentuhan loop elektronik ini digambarkan sekawanan mafia yang bertampang sok sangar namun sebenarnya tidak. Dengan beberapa tingkah laku yang cukup kocak mereka seolah-olah mencuri semua properti 2 dimensi yang ada pada area pertunjukkan tersebut hingga kosong seperti pada awal pertunjukkan. Gerakan-gerakan yang ditunjukkan pada bagian ini sangat ekspolratif dan permainan piano dari Frau sendiri bisa menggiring mereka ke gerakan-gerakan tersebut.
Mungkin babak terakhir ini menjadi sebuah klimaks yang sangat sempurna untuk menutup pertunjukkan ini. Pada babak ini Frau berkolaborasi dengan ibunya sendiri yaitu Joan Suyenaga yang bermain rebab. Ya, saya pikir ini sangat cukup menggambarkan maksud dari lagu tersebut yang berjudul. Pada babak penutup ini saya merasakan semua penonton yang ada pada ruangan tersebut melupakan sejenak panasnya hawa yang ada karena kinerja air conditioner yang kurang maksimal. Permainan mereka berdua dipadu dengan cahaya mirror ball seperti mengajak kita ke sebuah galaksi yang dingin dan menyenangkan. Saya terdiam dan semua penonton pun terdiam. Mencoba menghilangkan segala kepenatan dan kegembiraan yang ada saat itu dan menikmati iringan merdu musik yang terdengar. Pada akhirnya kesempatan yang sudah lama dipendam untuk memberi tepuk tangan terbayar sudah. Epilog yang cukup indah untuk pertunjukkan malam itu.
- + Berawal Dari Kabar Seorang Kawan by Purnawan Setyo Adi
- + Mencuri Manisnya Madu Metropolitan by Kurnianto Tri Wibowo
- + Epilog Indah "A Girl On The Run" by Marselinus Krishna
- + Catatan Sebuah Proses by Marselinus Krishna
- + Ternyata Ini "Legenda" Yang Dimaksud by Kurnianto Tri Wibowo
- + Pertunjukkan Klimaks dari Risky Summerbee and The Honey Thief by Purnawan Setyo Adi
- + A Moment With Frau, Double It Up! by Mahar G.Rosalia
Potensi Musik Jogja Sebagai Wadah Persinggungan Seni dan Budayaby Timoteus Anggawan Kusno
Bagaimana dinamika perkembangan musik jogja di dalam menghadapi tantangannya tanpa berkutat dengan komparasi yang melelahkan
- 1. Eric Clapton - Cocaine
- 2. The Prodigy - Outerspace
- 3. Sebadoh - Freed Pig
- 4. The Breeders - Canonball
- 5. Mesin Tempur - Beca Tiguling
Posted in Event by Purnawan Setyo Adi
Musik pop era 70an kembali dihidupkan oleh White Shoes and The Couples Company diiringi dansa kala senja menggila.
Posted in Event by Timoteus Anggawan Kusno
Acara launching dua buah album dibatalkan karena hujan deras yang mengguyur.
Price : IDR 90.000,-
Sebuah permainan komposisi warna psychadelic, layaknya ekstase meremukkan mushroom di dalam rongga





dimanakah saya bisa mengunduh lagu2 dan clip2 frau?