Berawal Dari Kabar Seorang Kawan
Sorotan lampu berwarna-warni. Kepulan asap panggung. Dua buah ranting pohon berwarna putih tergantung diatap. Penonton duduk rapi. Tiga orang berdiri diatas stage siap memainkan musiknya. Saya berdiri disamping stage yang posisinya agak tinggi ditemani Nadya, Keyboardis Risky Summerbee and The Honeythief.
Sejak jauh hari. Saya mendapat kabar dari Fajar, salah seorang teman yang giat menghidupkan kembali scene indiepop Jogja.
"Kongsi Jahat mau ngadain konser promonya Efek Rumah Kaca di Taman Budaya Jogja." Ujar Fajar.
Melalui zines Lightning Sheets-nya yang diproduksi sendiri bersama beberapa kawan, Fajar menyebarkan info seputaran isu-isu terbaru di scene indiepop, mulai dari musik, artikel NME Magazine yang diterjemahkan sendiri, hingga review gigs yang ada di Jogja.
"Tanggal berapa ?" tanya saya.
"Tanggal 29 Mei, datang ya." jawabnya.
Dengan senang hati saya menyambut kabar ini. saya selalu penasaran dengan efek rumah kaca, band yang sukses dengan album pertamanya dan mengundang banyak perhatian.
Selang beberapa minggu kemudian, benar saja Kongsi Jahat Syndicate sebagai pihak penyelenggara memberi saya undangan press conference acara promo album Efek Rumah Kaca di Lembaga indonesia Perancis (LIP).
Hari sudah mulai gelap. Café yang terletak di persimpangan salah satu komplek daerah Sagan berada di depan saya. Deretan kursi yang tak banyak dan tersusun rapi, lampu yang sinarnya nyaris remang-remang, dan pot bunga yang hadir di berbagai sudut. Saya menyapa beberapa teman yang sudah hadir pada saat itu, Dito dari DAB Magazine, Lopha dari detik, dan teman kampus yang bernama Icik. Lewat 15 menit saya berbasa-basi, press conference tak kunjung dimulai.
"Ah lama sekali." pikirku. Sembari menunggu, saya pun berjalan-jalan menuju kerumunan panitia yang berkumpul di pintu masuk. Saya menyapa Adi Adriandi yang lebih sering disebut Gufi oleh kawan-kawan. Dan saat kusapa, Gufi berdiri dekat pintu masuk LIP.
"Halo Guf!" sapa ku.
"Woy!" jawabnya dengan singkat.
Gufi berperawakan jangkung dengan rambut panjang yang terurai. Sesekali ia sibuk menghisap rokonya yang dipegang. Ia merupakan pegiat acara musik Indie di Jogjakarta. Bersama abangnya, Ojie. Keduanya merupakan pencetus terbentuknya Kongsi Jahat Syndicate.
"Katanya tiket buat besok abis ya?" tanya saya, mengklarifikasi apa yang saya baca melalui Facebook.
"Oh iya tiketnya sold out!"tukasnya.
Wow, rupanya Efek Rumah Kaca berdaya jual tinggi sehingga animo penikmat musik untuk datang ke konser ini cukup besar. Saya pun dibuat penasaran bagaimana penampilan band yang tiket konsernya habis.
Hampir 30 menit saya menunggu, press conference pun dimulai. Di deretan meja depan Cholil, Akbar dan Adrian telah hadir. Ketiganya adalah personil dari Efek Rumah Kaca. Dibuka dengan perkenalan masing-masing personil berlanjut kemudian pada cerita awal adanya pertunjukkan. Cholil menjadi personil yang paling vokal.
Angki Purbandono yang menggarap cover album terbaru Efek Rumah Kaca yang bertitel Kamar Gelap turut hadir malam itu. Mengetahui Angki datang, sontak Cholil pun kemudian meminta Angki sedikit menjelaskan tentang cover album Kamar Gelap ketika ada salah satu orang yang bertanya mengenai tema dari konsep cover album Kamar gelap.
Melihat poster konser yang sering saya temui di berbagai tempat, tertera bahwa pada pergelaran musiknya kali ini, Efek Rumah Kaca akan menggandeng beberapa seniman Jogjakarta untuk bekerjasama dalam pertunjukkannya. Eko Nugroho berperan sebagai penggarap visual dan Teater Garasi membantu dalam tata artistiknya. Risky Summerbee and The Honeythief dan Melancholic Bitch diagendakan untuk bermain sebelum penampilan Efek Rumah Kaca.
Tak dapat dipungkiri band yang digawangi oleh Cholil (gitar dan vokal), Adrian (Bass), Akbar (drum) saat ini banyak digandrungi oleh kalangan muda. Hal ini dapat dilihat ketika saya datang pada acara pentas seni SMAN 3 Jogjakarta yang saat itu mengundang Efek Rumah Kaca. Hampir satu stadion dipenuhi oleh para pelajar yang saat itu menantikan penampilan Efek Rumah Kaca yang tampil di Stadion Kridosono. Ditengah-tengah maraknya serbuan band-band yang minim kualitas secaera lirikal, Efek Rumah Kaca menjadi angin segar untuk pendengar yang haus akan musik dengan lirik yang berbobot.
Efek Rumah Kaca mampu meracik isu-isu sosial yang sedang banyak diperbincangkan dipadu kedalam balutan musik pop yang catchy sehingga tetap seksi dan dapat diterima oleh pendengar musik umum. Simak saja lagu di udara yang terdapat pada album pertamanya, Ku bisa tenggelam di lautan/Aku bisa diracun di udara/Aku bisa terbunuh di trotoar jalan/tapi aku tak pernah mati/Tak akan berhenti. Petikan lirik lagu tersebut menceritakan tentang perjuangan pejuang HAM Indonesia, Munir, yang tewas diracun di pesawat Garuda dalam perjalanannya menuju Amsterdam. Lagu ini sekaligus menjadi kritik terhadap pemerintah yang hingga saat ini belum tuntas mengusut kasus tersebut. Simak juga track yang berjudul Cinta Melulu. Dalam liriknya Efek Rumah Kaca juga secara tegas mengkritik pola penciptaan karya musisi sekarang yang hampir sebagian besar temanya mengenai cinta yang diartikan secara banal hanya untuk menarik minat pasar. Nada-nada yang minor/Lagu perselingkuhan/Atas nama pasar semuanya begitu klise/Elegi patah hati/Ode pengusir rindu/Atas nama pasar semuanya begitu banal.
Dari beberapa penggalan lirik tersebut, ini sekaligus menjelaskan sikap Efek Rumah Kaca terhadap industri musik Indonesia. Tak ingin disetir oleh major label yang mainstream. Untuk album keduanya ini Efek Rumah Kaca memilih untuk berada di bawah naungan Aksara Record, indie label yang bermarkas di Jakarta. Walaupun ada perubahan label, dari album pertama yang dirilis Paviliun Record, namun tetap dalam garis non major label. Seperti diakui oleh Cholil saat press conference.
"Sebenernya ada beberapa major label yang mengajukan tawaran untuk menggandeng Efek Rumah Kaca ke dalam labelnya, namun karena beberapa alasan akhirnya tidak terjadi deal," ungkap Cholil.
Hari berikutnya, saya pun berangkat menuju Amphiteater Taman Budaya Jogjakarta, tempat pertunjukkan musik Efek Rumah Kaca digelar. Sampai lokasi, saya langsung disuguhi oleh penampilan Risky Summerbee and The Honeythief. Bermain selama 45 menit dengan membawakan materi dari album pertamanya, The Place I Wanna Go, yang baru saja dirilis oleh Dialectic Record bekerjasama dengan Demajor. Risky Summerbee and The Honeythief sukses menghidupkan suasana pertunjukkan sebagai penampil pertama.
Kelar dengan penampilan Risky Summerbee and The Honeythief, Melancholic Bitch langsung mengisi stage untuk tampil sebagai penampil kedua. Sama dengan Risky Summerbee and The Honeythief, Melancholic Bitch membawakan lagu-lagunya yang kesemuanya berdurasi 45 menit. Uniknya, semua lagu yang Melancholic Bitch mainkan saat itu mampu dirangkai dalam sebuah alur kisah tentang Balada Joni dan Susi. Tak dapat diragukan lagi Melancholic Bitch mampu membuai penonton melalui nada-nada yang mereka mainkan malam itu.
Selesai dengan peetunjukkan musik yang unik dari Melancholic Bitch, Efek Rumah Kaca. Berdiri saya di salah satu samping ruang yang cukup padat, mengingat saat itu semua ruang penonton terisi penuh, saya pun mengambil inisiatif untuk duduk di samping timur stage. Menatap dengan pandangan penuh rasa penasaran sambil mengamati tata artistik yang dibantu oleh Teater Garasi. Dua ranting kayu berwarna putih menggantung tepat disamping drum. Ketika saya sedang asik menyaksikan suasana stage, tak lama kemudian Cholil, Adrian dan Akbar memasuki stage. Sebuah petikan gitar dari cholil, disambut oleh betotan bass dan dentuman drum Akbar menandai bahwa inilah waktunya Efek Rumah Kaca tampil. Mereka kali ini tampil dengan kostum yang seragam, memakai atasan jas hitam yang dihiasi dengan potongan stiker berwarna putih yang bertuliskan nama masing-masing dan dipadu dengan bawahan celana berwarna gelap. Disaat Efek Rumah Kaca memulai penampilannya, Eko Nugroho langsung mulai memainkan visualnya.
Namun, yang perlu disayangkan agaknya banyak terjadi kendala pada sound, terutama pada bass. Sound bass beberapa kali sempat tidak terdengar dan beberapa kali juga terdengar pecah. Suara microphone yang berada di Akbar juga tidak terlalu terdengar. saya agak sedikit terganggu dengan hal ini.
Efek Rumah Kaca dalam penampilannya kala itu membawakan 15 lagu dengan total durasi 1 jam 15 menit. Dengan waktu yang sekian panjangnya, hampir saja saya mengalami kebosanan karena performance Efek Rumah Kaca yang cenderung monoton. Efek Rumah Kaca tidak melulu membawakan semua lagunya yang ada di album terbarunya tetapi juga membawakan beberapa lagu yang terdapat pada album pertamanya. Visual Eko Nugroho dalam beberapa lagu dirasa sesuai dengan lirik dan musik efek Rumah Kaca. Rasa penasaran yang ada dalam benak saya pun terjawab, inilah Efek Rumah Kaca, band yang banyak menjadi perhatian penikmat musik Indonesia, hadir di depan mata saya. Berawal dari kabar seorang kawan, saya mengikuti secara utuh acara penampilan Efek Rumah Kaca di Jogjakarta.
- + Berawal Dari Kabar Seorang Kawan by Purnawan Setyo Adi
- + Mencuri Manisnya Madu Metropolitan by Kurnianto Tri Wibowo
- + Epilog Indah "A Girl On The Run" by Marselinus Krishna
- + Catatan Sebuah Proses by Marselinus Krishna
- + Ternyata Ini "Legenda" Yang Dimaksud by Kurnianto Tri Wibowo
- + Pertunjukkan Klimaks dari Risky Summerbee and The Honey Thief by Purnawan Setyo Adi
- + A Moment With Frau, Double It Up! by Mahar G.Rosalia
Potensi Musik Jogja Sebagai Wadah Persinggungan Seni dan Budayaby Timoteus Anggawan Kusno
Bagaimana dinamika perkembangan musik jogja di dalam menghadapi tantangannya tanpa berkutat dengan komparasi yang melelahkan
- 1. Eric Clapton - Cocaine
- 2. The Prodigy - Outerspace
- 3. Sebadoh - Freed Pig
- 4. The Breeders - Canonball
- 5. Mesin Tempur - Beca Tiguling
Posted in Event by Purnawan Setyo Adi
Musik pop era 70an kembali dihidupkan oleh White Shoes and The Couples Company diiringi dansa kala senja menggila.
Posted in Event by Timoteus Anggawan Kusno
Acara launching dua buah album dibatalkan karena hujan deras yang mengguyur.
Price : IDR 90.000,-
Sebuah permainan komposisi warna psychadelic, layaknya ekstase meremukkan mushroom di dalam rongga





kool..kool! good job man!