Berdansa Di Kala Senja Menggila
Petang menjelang. Suasana kota tak kunjung lengang. Kali ini aku bertandang ke bilangan Sagan tempat Lembaga Indonesia Perancis (LIP) menggelar pertunjukan. Sebuah konser musik White Shoes and The Couples Company (WSTCC) yang dijadwalkan tampil malam ini dengan tajuk Senja Menggila.
Kerumunan orang yang menanti konser WSTCC di pintu masuk mulai terlihat, tepat ketika waktu menunjukkan pukul 18.30. Beberapa orang terlihat me-retro-kan dirinya menyesuaikan konsep yang diusung WSTCC. Menarik sekali memperhatikan tingkah polah mereka yang sudah menanti. Ada yang gelisah karena kehabisan tiket, ada yang tertawa lepas menandakan keceriaan hatinya malam itu dan ada yang duduk terdiam dengan sebatang rokoknya yang dipegang di tangan kanan.
Kehadiran WSTCC di Jogjakarta memang bukan semata-mata hanya konser musik biasa. Dibalik itu, WSTCC juga turut melaunching karya single terbaru mereka yang berjudul Senja Menggila di dalam pertunjukan ini. Konsep acara yang diselenggarakan oleh Daging Tumbuh ini pun tidak lepas dari tema besar launching komik WSTCC VS DGTMB "Senja Menggila" serta launching komik daging tumbuh #13.
WSTCC merupakan satu dari sekian banyak band Indonesia yang berkarakter saat ini. Dengan mengusung konsep musik dan performance matang, mereka mengolah musik pop Indonesia era 70an menjadi sesuatu yang layak ditampilkan kembali. Berangkat dari jaringan musik kampus Institut Kesenian Jakarta pada tahun 2002, kini WSTCC mampu menancapkan konsep musik yang diusungnya di dunia musik nasional maupun internasional. Berlebihankah saya menyebut internasional? Rasanya tidak. Terbukti dengan terpincutnya label Minty Fresh Records sebuah label rekaman yang berbasis di Chicago, USA yang melirik band ini untuk mengontraknya pada medio September 2007. Deretan artis yang tergabung dalam Minty Fresh Records pun tak perlu diragukan lagi kualitasnya, The Cardigans, Tahiti 80, Veruca Salt, Ivy, The Poems dan Prototype berada di bawah naungannya. Kontrak kerjasama tersebut membuahkan hasil yang berujung pada album pertama WSTCC dirilis di lima wilayah yakni USA, Mexico, Kanada, Australia dan Jepang. Tak banyak di blow up oleh media Indonesia memang, namun hal ini menjadi tamparan keras bagi musisi-musisi Indonesia yang banyak berkoar-koar tentang Go Internasional ke berbagai media.
Jam tangan saya menunjukkan pukul 19.30. pertunjukkan musik yang sejatinya dimulai pada pukul 19.00 belum juga dimulai. Penonton yang menanti konser ini pun semakin menyemut di depan pintu masuk LIP. Kepulan asap rokok semakin ramai, muda-mudi tengah bercengkrama dengan segala haru birunya cerita masing-masing. Tak lama kemudian seorang panitia berteriak memberikan pengumuman mengajak penonton untuk masuk ke auditorium karena pertunjukkan akan segera dimulai.
Frau, gadis manis berambut ikal, bersiap menenun hujan dengan mesin pianonya 10 menit setelah saya duduk di bangku pertunjukkan. Gadis yang populer dengan lagu Mesin Penenun Hujan ini menjadi pengantar yang indah untuk konser musik kali ini. Frau menjadi semakin dikenal di Jogjakarta pasca pertunjukkan solonya bertajuk A Girl On The Run di pertengahan bulan Mei tahun ini. Kesuksesan pertunjukkan solonya tersebut berdampak pada meningkatnya kepopuleran gadis sederhana yang disapa Lani dalam kehidupan sehari-harinya. Muda, sederhana dan memikat. Ini bukan lagi sebuah tamparan, melainkan sebuah tendangan bagi musisi-musisi lokal yang terkadang terlampau mengeksploitasi kepopuleran dirinya.
Enam lagu yang dihadirkan Frau seakan membuat telinga saya dimanjakan dengan alunan musik lembut yang dimainkannya. Tak diragukan lagi ini menjadi aset berharga dunia musik Jogjakarta. Dengan usianya yang masih muda, Frau mampu memperlihatkan kapasitas permainan musiknya yang luar biasa.
Selesai dengan permaianan Frau, kini perhatian saya melompat kepada WSTCC. Band dengan nuansa retro yang menjadi tajuk utama konser malam ini. Bergiliran personil WSTCC menaiki stage, memang tak salah penilaian saya selama ini, band ini punya karakter yang kuat. Pukul 20.00 seiring dengan dibukanya payung bernuansa lawas yang dibawa oleh Sari (vokalis) diiringi hentakan intro musik WSTCC menandakan WSTCC telah memulai konsernya malam ini.
Nuansa retro yang mengingatkan kita pada pertunjukkan musik pop Indonesia di tahun 70an mengena sekali di pikiran saya. Tak menghiraukan dengan suhu udara ruangan yang luar biasa panas saat itu WSTCC tak hentinya menggeber track-tracknya ke telinga penonton yang hadir dengan suguhan performace yang atraktif.
Selama hampir satu jam WSTCC telah memainkan musiknya, jeda lagu berikutnya, Sari sang vokalis, mengajak penonton untuk berdiri dan berdansa bersama. Ajakan ini pun disambut antusias oleh penonton, energi yang dipancarkan oleh WSTCC walaupun dengan basahnya tubuh dan pakaian yang jelas terlihat namun tak ada kesan lelah yang ditampilkan WSTCC. Melihat energiknya WSTCC diatas panggung, penonton pun seakan tak mau kalah. Suhu udara yang panas tak lagi menjadi hambatan. Semua berdansa di kala senja menggila.
Potensi Musik Jogja Sebagai Wadah Persinggungan Seni dan Budayaby Timoteus Anggawan Kusno
Bagaimana dinamika perkembangan musik jogja di dalam menghadapi tantangannya tanpa berkutat dengan komparasi yang melelahkan
- 1. Eric Clapton - Cocaine
- 2. The Prodigy - Outerspace
- 3. Sebadoh - Freed Pig
- 4. The Breeders - Canonball
- 5. Mesin Tempur - Beca Tiguling
Posted in Event by Purnawan Setyo Adi
Musik pop era 70an kembali dihidupkan oleh White Shoes and The Couples Company diiringi dansa kala senja menggila.
Posted in Event by Timoteus Anggawan Kusno
Acara launching dua buah album dibatalkan karena hujan deras yang mengguyur.
Price : IDR 90.000,-
Sebuah permainan komposisi warna psychadelic, layaknya ekstase meremukkan mushroom di dalam rongga





terimakasih buat review nya yaaa ... salam hangat dari Jakarta .