Good Music For a Good Scene

VredyImage/Vredy
VredyImage/Vredy

Membicarakan musik seperti membicarakan sesuatu yang tak ada habisnya. Musik adalah satu produk budaya yang tak bisa dilepaskan dari sejarah perkembangan peradaban manusia. Musik berkembang seiring manusia berkembang. Baik secara lirik, musikalitas, dan instrument sendiri juga ikut berkembang. Di era klasik yang berakar dari budaya Eropa, musik yang sangat populer adalah musik-musik instrumental dengan komposisi sangat kompleks, yang biasanya disuguhkan secara kolosal dalam suatu orkestrasi yang massif di ruang public dengan audiens para bangsawan. Di era sekarang, musik yang dikatakan popular sudah sangat berbeda dengan era saat itu. Sekarang musik bisa diolah secara sintetis, oleh individu, dan dengan eksplorasi suara berupa bit-bit elektronik, dan dipentaskan dalam ruang di mana status social sudah tidak lagi menjadi sarat mutlak untuk bisa mengapresiasi musik. Semua bisa dan berhak mendengarkan musik apapun. Tapi satu yang digarisbawahi di sini adalah bahwa kesejarahan musik tidak terlepas dari konteks jaman, tempat, dan kondisi social di mana musik itu diciptakan.

Sungguh sebuah perkembangan yang luar biasa sebenarnya di era sekarang ini. Musik saat ini bisa mendobrak kesejarahannya sendiri. Saat ini penciptaan musik ibarat tak terkait ruang dan waktu. Siapapun menjadi bisa memiliki kesempatan menciptakan musik apapun di manapun dan kapanpun, sejauh mereka tersokong akses dan fasilitas untuk itu. Kemungkinan penciptaan sudah menjadi sebuah kesempatan yang terbuka luas dan bebas. Perkembangan musik yang terjadi ibarat meng-antitesis-kan konteksnya sendiri. Jelas, ini tak luput dari pengaruh perkembangan media memang. Bukan tentang baik dan buruk juga tentunya. Hanya lebih pada pembacaan budaya.

Tapi sayangnya, semua fasilitas dan akses yang diamini tersebut justru untuk beberapa kreator musik menjadi semacam "perangkat seksi" saja. Artinya tidak ada pemanfaatan fungsional dan tidak berorientasi pada penciptaan karya yang otentik. Justru yang terjadi adalah makin membesarnya lubang-lubang yang menjerat beberapa musisi menjadi medioker semata.

Contoh nyatanya misalnya, dengan segala akses yang dimiliki, seseorang memiliki kesempatan untuk mendengarkan musik dari band bernama THE CONTOH BAND (misalnya saja ini nama band), sebuah band yang memulai eksistensinya jauh di negeri orang sana pada masanya. Sebuah tempat yang memiliki konteks budaya, sosial, dan problem yang memang berbeda. Kemudian tiba-tiba di satu gigs di Yogyakarta kita menemukan sebuah band dengan formulasi personil, komposisi, karakter musik, pemilihan kostum, cara bernyanyi, cara memainkan gitar, bahkan dengan isu-isu lirik yang mirip dengan dengan THE CONTOH BAND. Dengan lirik-lirik yang sangat jauh dengan situasi sosial di sini, dengan isu-isu yang sangat jauh dari konteks budaya di sini, meski lirik ditulis sendiri atas pengalaman pribadi, tapi simbol-simbol yang ditawarkan sebenarnya adalah sesuatu yang jauh dari konteks dirinya sebagai individu. Terkadang simbol-simbol yang belum pernah dialami secara personal, hanya sebatas referensi visual atau auditif semata.

Ironisnya lagi, seolah segala hal yang memiliki kedekatan dan satu asosiasi nyata dengan produk musik dunia Barat (baik Inggris maupun Amerika Serikat) justru dianggap lebih eksotis, dan cenderung diagung-agungkan. Seperti makin referensialnya suatu band di ranah scene indie lokal dengan icon musik tertentu dari negeri asalnya (Inggris & Amerika Serikat), makin mengkultuskan bahwa suatu grup makin berkualitas dan "layak didengarkan". Terlihat kemudian pada pola review musik scene indie Indonesia, betapa sebuah band makin dipengaruhi oleh band-band yang namanya makin antah berantah dan terkesan ekslusif tidak banyak orang mengerti, seolah makin mencitrakan kualitas dan image "keren" band tersebut. Padahal sempat saya membaca model review majalah Rolling Stone US terhadap Pink floyd, Velvet Underground, atau Sonic Youth sendiri, betapa benar-benar justru di sana eksperimentasi, musikalitas dan konseptualisasi musisi hingga kemasan dibedah habis-habisan, dengan argument-argumen, serta pisau-pisau analisis yang tepat beralasan. Justru bukan referensi-referensi semu, yang bagi mereka itu sudah berlalu, dan dimentahkan dalam proses kreatifnya sendiri. Maka jelas sudah, ini permasalahan kita.

Tak dapat kita sangkal, bahwa kemudian stigma "fotokopi" dan istilah "ketidakdalaman" menjadi melekat akan proses reproduksi musik dan attitude dari scenester lokal kita (dalam konteks ini : Indonesia). Kedangkalan dan hilangnya kesejarahan seperti sebuah mata rantai yang luput entah kemana. Bukan sebagai sebuah pengklaiman secara sepihak, melainkan lebih kepada sebuah refleksi yang memang berangkat dari realitas. Kecuali semua ini dilihat sebagai komoditi konsumsi, maka habislah sudah perdebatan dan semua terjawab. Tapi apakah hanya sampai di situ saja? Tentunya ini sebuah tantangan untuk dijawab bersama dalam proses selanjutnya.

Tulisan ini sebenarnya justru sebuah optimisme akan karya kawan-kawan ke depan. Memang kita tak bisa dipisahkan dari gejala-gejala macam ini di era kontemporer saat ini. Memang tak dapat dipungkiri juga bahwa, konteks kita sekarang pun adalah hidup di era ruang dan jaman tak lagi menjadi batas dalam perwujudan kreasi. Era di mana muncul istilah "semua sudah ditemukan". Tapi ada satu perkataan teman saya, Elida Tamalagi yang cukup bagus merespon istilah itu "semua boleh jadi sudah ditemukan, tetapi tetap ada satu yang akan selalu membedakan : personal taste!". Dan inilah yang saya yakini akan jadi sesuatu yang akan selalu berkembang memperkuat karakter karya yang benar-benar berangkat dari kesadaran eksistensi kita sebagai individu dan creator, terlepas betapa hebat gempuran media dan hal-hal baru yang mau tak mau akan selalu berkembang dan terseleksi secara alamiah dengan caranya masing-masing.

Boleh jadi punk rock sudah ditemukan di Inggris sana pada masanya, tapi saat ini Jogja punya Dom 65 yang dalam lirik mereka berbicara tentang kawan-kawan mandala mereka, dengan kemasan musik yang unik dan justru lebih segar untuk telinga kita orang Jogja. Armada Racun dengan lirik sosial yang lugas dan tegas yang sebenarnya justru lebih dekat sebagai problem keseharian yang ada di sekeliling kita manusia Indonesia, atau seperti Zoo yang mampu mengemas cerdas rekaman-rekaman memori tentang hal-hal sederhana yang cenderung eksotis dalam ranah etnik di Indonesia dalam attitude dan musik mereka yang terdengar antik, lebih seperti iringan tari-tarian suku pedalaman…

Patut sebenarnya kita berbangga atas karya-karya kawan-kawan kita, dan bisa jadi ini menjadi motivasi untuk berkarya lebih otentik dan kontekstual. Tidak terjebak pada referensi. Tidak terjebak pada gaya, imaji, atau simbol-simbol yang sebenarnya justru jauh dari keseharian kita, identitas kita bukanlah semata-mata apa yang kita dengarkan yang menjadikan kita sebenarnya makin layak disebut konsumen sejati saja. Tapi ada saatnya kita harus berani mematikan idola kita, dan berkarya dengan hal yang benar-benar bersumber atas kesadaran diri kita, untuk sebuah penciptaan yang benar benar bagus. Like a Good Art is a Good Art, Good Music is a Good Music!

Foto : Doni Maulistya/ItsMusicBoxToday Berdansa Di Kala Senja Menggila
Posted in Event by Purnawan Setyo Adi

Musik pop era 70an kembali dihidupkan oleh White Shoes and The Couples Company diiringi dansa kala senja menggila.

Hujan Deras/MusicBox Hujan Deras Gagalkan Double Launching
Posted in Event by Timoteus Anggawan Kusno

Acara launching dua buah album dibatalkan karena hujan deras yang mengguyur.

STUFF
stuff1 Great Full Dyed
Price : IDR 90.000,-

Sebuah permainan komposisi warna psychadelic, layaknya ekstase meremukkan mushroom di dalam rongga